Momentum Hari Santri Nasional dimanfaatkan pemerintah untuk
mengumumkan kebijakan baru, yakni kewajiban penggunaan kain sarung serta
peci hitam bagi pelajar dan pegawai setiap hari Jumat. Adalah Bupati
Purwakarta Dedi Mulyadi dalam sambutannya mengungkapkan, sarung
merupakan identitas keislaman nusantara. Baca juga : 12 POIN PENTING PESAN MENDIKBUD SEIRING PEROMBAKAN SISTEM PENDIDIKAN SECARA BESAR-BESARAN
Selain itu, karena menjadi simbol persatuan bangsa, Bupati yang akrab disapa Kang Dedi tersebut juga mengatakan bahwa sarung telah menjadi spirit perlawanan terhadap kolonialisme bangsa asing. Menurut dia, menggunakan sarung sama saja dengan menginternalisasi nilai-nilai nasionalisme.
Sementara bagi pelajar dan pegawai non muslim seperti Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Budha dan Konghucu, Pemerintah Kabupaten Purwakarta mempersilakan mereka mengenakan sarung khas Indonesia atau pakaian yang melambangkan nilai spiritualitas agamanya masing-masing
Pembelakuan kebijakan menggunakan kain sarung setiap hari Jumat ini juga berbarengan dengan permberlakuan kebijakan belajar baca tulis Al Qur’an, Qiro’ah, dan kitab kuning dan kitab lain sesuai dengan ajaran agama yang dianut oleh pelajar Purwakarta per 1 Desember 2016 mendatang.
Sumber : http://www.iqromedia.net/2016/10/Setiap-Jumat-Pelajar-dan-Pegawai-Pemerintah-Wajib-Memakai-Sarung-dan-Peci-Hitam.html
Penggunaan sarung diharapkan dapat membangkitkan suasana pesantren dan nilai-nilai santri di kalangan para pelajar serta pegawai pemerintahan.
“Sarungan itu khas Indonesia, khas nusantara, di Sunda ada istilah samping atau sinjang untuk sarung, di Jawa mungkin istilahnya berbeda, begitu pun Makasar, Bali dan Kalimantan. Semua memiliki kekhasannya tersendiri. Kesamaannya satu, tetap sarungan. Maka sarung dalam hal ini merupakan simbol persatuan bangsa,” jelas Dedi seperti dikutip dari jpnn.com (22/10).Selain itu, karena menjadi simbol persatuan bangsa, Bupati yang akrab disapa Kang Dedi tersebut juga mengatakan bahwa sarung telah menjadi spirit perlawanan terhadap kolonialisme bangsa asing. Menurut dia, menggunakan sarung sama saja dengan menginternalisasi nilai-nilai nasionalisme.
Baca juga : Pemerintah Harus Memaksa Guru Lebih Kreatif dan Inspiratif“Perang melawan kolonialisme dulu itu digerakan oleh kaum sarungan. Ini luar biasa, nasionalisme mereka tidak perlu dipertanyakan lagi. Mereka tegak menegakan kedaulatan bangsa Indonesia,” tandas Dedi.
Sementara bagi pelajar dan pegawai non muslim seperti Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Budha dan Konghucu, Pemerintah Kabupaten Purwakarta mempersilakan mereka mengenakan sarung khas Indonesia atau pakaian yang melambangkan nilai spiritualitas agamanya masing-masing
Pembelakuan kebijakan menggunakan kain sarung setiap hari Jumat ini juga berbarengan dengan permberlakuan kebijakan belajar baca tulis Al Qur’an, Qiro’ah, dan kitab kuning dan kitab lain sesuai dengan ajaran agama yang dianut oleh pelajar Purwakarta per 1 Desember 2016 mendatang.
Sumber : http://www.iqromedia.net/2016/10/Setiap-Jumat-Pelajar-dan-Pegawai-Pemerintah-Wajib-Memakai-Sarung-dan-Peci-Hitam.html
![]() |
| Ilustrasi Aturan Seragam Sarung dan Peci Hitam |

